"Kebahagiaan itu dicapai dengan akal dan budi bahasa, bukan dengan asal dan bangsa"
"Segala sesuatu itu ada kuncinya dan kunci kebahagiaan dunia dan akherat itu terdapat pada kebaikan budi bahasa"
"Semua orang ingin berizki banyak dan usia panjang, namun yang diperoleh hanya kebalikannya, sebab merekan tak pernah menyambung tali persaudaraan."
"Membiarkan diri untuk tidak shalat berjama'ah, sama halnya dengan seorang raja bergerak maju melangkah meninggalkan singgasana"
"Orang yang kuat adalah orang yang mampu menaklukan kebiasaan buruknya"
"Seseorang yang jatuh sakit parah karena cerobohnya, barulah tahu bahwa obatnya itu tak ada, melainkan bila islam telah meraja di dalam dadany"
"Sebenarnya keimanan seseorang itu tak akan dapat diketahui, karena tempatnya di dalam hati dan hati itu di dalam dada. Namun perbuatan dan ucapan akan menjadi jarum penunjuk tebal tipisnya."
KEHIDUPAN
Senin, 23 April 2012
Sabtu, 21 April 2012
KISAH NENEK PEMUNGNGUT DAUN
Dahulu
di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka.
Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai
jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk
masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya,
ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia
mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi
selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak
lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari
Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh
tubuhnya.
Banyak
pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid
memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu
datang.
Pada
hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia
ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun
daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan
keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah isapukan sebelum
kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan
kepadaku untuk membersihkannya.”
Singkat
cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu
mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua
itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai
yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan
ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda
dapat mendengarkan rahasia itu.
“Saya
ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya
yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak
mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad.
Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat
kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi
menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan
salawat kepadanya.”
Perempuan
tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam
bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan
diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia
juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat
mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa
lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?
KISAH PENEBANG KAYU
Alkisah,
seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang
pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang
bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun
bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat
mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area
kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan
kepada si penebang pohon.
Hari
pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari,
mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan
pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat
kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada
yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat
termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja
lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon.
Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak
memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin
sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah
kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat
mempertanggungjawab kan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang
pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap
ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan
mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah
kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari
menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si
penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang
pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang
sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu
sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus
meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja
dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang
mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang
majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si
penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Istirahat bukan berarti berhenti ,
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi
Sama
seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam
hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk,
sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu
istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah
pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme
kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis,
berwawasan dan selalu baru !
Salam sukses luar biasa
SIAPA YANG PALING JELEK
Ada
suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai.
Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir.
Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. “Hai Fulan, kau telah menempuh
semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab
berarti kamu lulus “, kata Kyai. “Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?”
“Kamu cari orang atau mahkluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri
waktu tiga hari “. Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk
melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.
Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan
pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan.
Santri berkata dalam hati, ” Inilah orang yang lebih jelek dari saya.
Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus “.
Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. “Belum tentu, sekarang
Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Alloh memberi
Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik
banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul
Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.
Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu
dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut,
kudisan dsb. Santri bergumam, ” Ketemu sekarang yg lebih jelek dari
aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi ” . Santri
gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan
tidur sehabis ‘Isya, dia merenung, “Anjing itu kalau mati, habis
perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh
Alloh, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat
yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. “Aku tidak
lebih baik dari anjing itu.
Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai
bertanya, “Sudah dapat jawabannya muridku ?” “Sudah guru”, santri
menjawab. ” Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru”. Sang
Kyai tersenyum, “Kamu aku nyatakan lulus”.
Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita
masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari
orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita
tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita
akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama
ciptaan Alloh.
Sabtu, 21 Mei 2011
KISAH TELADAN
Pada zaman dahulu ada seorang pemuda pengembara bernama Ahmad. Ahmad adalah seorang pengembara yang soleh dan taat kepada Allah. Hutan, gunnung serta padang pasir telah dilalui dalam pengembaraannya. Suatu ketika disaat Ahmad sedang menyusuri sebuah sungai. Dia merasa dahaga yang tiada terhingga, karena hari memang sangat panas sekali. Ahmadpun kemudian berhenti dipinggir sungai untuk minum dan mencuci mukanya. “Alhamdulillah….. terimakasih ya Allah, engkau telah memberikan keselamatan kepadaku dengan air sungai ini”. Tiba-tiba Ahmad melihat sesuatu mengapung-apung disungai menuju kearahnya. Tanpa berfikir panjang Ahmad pun kemudian mencebur dan mengambilnya yang ternyata adalah sebuah apel. “Ini mungkin rizki untukku”. Ahmad kemudian memakan apel itu. Tetapi disaat apel itu termakan hampir habis, Ahmad teringat sesuatu. “Astaghfirullah, Kalau ada buah apel terjatuh, berarti disekitar sini ada sebuah kebun. Dan bila ada sebuah kebun, mungkin kebun itu ada yang memiliki. Ya Allah Ampunilah hambamu yang telah memakan buah ini tanpa meminta izin kepada pemiliknya. Sebaiknya aku mencari dimana pemilik kebun dari buah ini.
Ahmadpun kemudian menyusuri sungai itu tanpa merasa letih. Dan benarlah, ternyata diujung sebuah hulu sungai ada sebuah kebun apel yang sangat luas. Ahmad kemudian mendatangi kebun itu dan mencari pemiliknya. Disaat Ahmad sedang mencari tiba-tiba seorang kakek mengejutkannya. “Assalamu’alaikum. Sedang mencari apa gerangan anak muda?” “Waalaikumussalam… Apakah bapak tau siapa pemilik kebun anggur ini?” “Sayalah pemiliknya. Kenapa ? “Jadi, jadi pemilik kebun ini adalah bapak sendiri. Oh.. Kebetulan sekali. Saya minta maaf karena saya telah memakan sebuah apel yang saya duga berasal dari kebun bapak”.
Akhir Pengembaraan
“Dimana engkau menemukannya anak muda?” tanya kakek itu.
“Disebuah sungai disaat saya sedang minum dan membasuh muka saya”.
Kakek Pemilik kebun apel itu terdiam dan menatap mata Ahmad dengan tajam. Ahmadpun
kemudian berkata, “Maafkanlah saya pak, saya siap menerima hukuman apapun dari bapak.
Apapun hukumannya, asalkan bapak memaafkan saya”.
Selasa, 10 Mei 2011
saudaraku....
saudaraku kaulah didupku....
tanpamu hampa kurasa.....
aku kan menunggu kapan pun hingga kau tiba.....
tanpamu hampa kurasa.....
aku kan menunggu kapan pun hingga kau tiba.....
Langganan:
Komentar (Atom)
